Hiperglikemi adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah ≥ 300 mg/dl (Hanifah, 2005).
Etiologi
Hiperglikemi dapat terjadi baik pada wanita maupun pria, atau usia muda < 40 tahun, tetapi lebih sering terjadi pada individu yang berusia 50 hingga hingga 70 tahun dan tidak memiliki riwayat diabetes atau hanya menderita diabetes tipe II yang ringan. Timbulnya keadaan akut tersebut dapat diketahui dengan melacak beberapa kejadian pencetus, seperti sakit yang akut (pneumonia, infark miokard, stroke), konsumsi obat-obat yang diketahui akan menimbulkan insufisiensi insulin atau prosedur terapeutik (dialysis peritoneal/hemodialisis, nutrisi parenteral total). Manifestasi Klinis Hiperglikemi merupakan keadaan dimana keadaan yang didominasi oleh hiperosmolaritas dan hiperglikemi dan disertai perubahan tingkat kesadaran. Pada saat yang sama tidak ada atau terjadi ketosis ringan. Kelainan dasara biokimia pada keadaan ini berupa kekurangan insulin efektif. Keadaan hiperglikemi persinten menyebabkan diuretic osmotic sehingga terjadi kehilangan cairan dan elektrolit.Untuk mempertahankan keseimbangan osmotic, cairan akan berpindah dari ruang intrasel kedalam ruang ekstrasel, dengan adanya glukosuria dan dehidrasi akan dijumpai keadaan hipernatremia dan peningkatan osmolaritas. Penatalaksanaan Pendekatan penanganan hiperglikemi yaitu: cairan, elektrolit dan insulin. Karena peningkatan usia yang khas pada penderita hiperglikemi ini, maka pemantauan yang ketat terhadap status volume dan elektrolit diperlukan untuk mencegah gagal jantung kongestif serta disritmia jantung. Terapi cairan dimulai dengan pemberian larutan normal saline 0,9% atau 0,45% sesuai dengan natrium dan intensitas penurunan volume. Pemantauan tekanan vena sentral atau tekanan arteri diperlukan untuk mengarahkan penggantian cairan, pemantauan EKG yang kontinu serta pengukuran kalium yang sering. Faktor Pencetus 1. Infeksi 2. Penolakan terapi insulin 3. Onset baru dari diabetic (stress fisik maupun emosi) Tanda dan gejala 1. Riwayat 1) Tanda klasik hiperglikemi Polyuri Polidipsi Thersti Nokturia 2) Tanda lain Lelah Malaise/letargi Nausea, vomitus Confiuse, coma Penurunan respirasi Anoreksia 3) Tanda yang berhubungan kondisi infeksi Fever Disuria Chest pain Abdominal pain 2. Tanda-tanda fisik 1) Tanda-tanda umum Penampulan orang sakit Kulit kering Membran mukosa kering Turgor jelek Penurunan reflek 2) Vital Sign Takikardi Hipotensi Takipnoe Hipotermi Fever jika infeksi 3) Tanda-tanda spesifik Nafas keton (bau nafas aseton/buah-buahan) Confius, coma 3. Diagnostik 1) Laboratorium Gula darah : > 300 mg/dl
Elektrolit (Na, K, CI)
Analisa gas darah: asidosis metabolic
Angka lekosit: meningkat karena infeksi
Urinalisa: glukosuria dan ketonuria
Osmolalitas 2 (Na) + Glukosa/18+Bun/2,8 : > 330Meq/kg H2O
Phosphat: menurun
Bun: meningkat
Anion gap: > 6 Meq/dl
2) Radiografi
Foto thoraks: pulmonary infeksi
CT scan kepala: evaluasi penurunan kesadaran, kemungkinan edema cerebri
EKG
4. Terapi medik
1) Penggantian cairan
Cairan isotonic normal saline sesuai dengan kehilangan cairan. Parameter evaluasi: tekanan darah, nadi, CVP, turgor kulit maupun mukosa. Pemberian 1 liter pada 1 jam pertama dilanjutkan sampai volume intravaskuler terpenuhi. Cairan diganti cairan hipotonik jika kadar Na > 155 meq/dl. Koloid diberikan jika tidak ada perbaikan hemodinamik setelah pengisian kristaloid.
Tujuan penggantian cairan adalah:
Memulihkan sirkulasi
Mengatasi hiperglikemi
Mencegah hiperkalemi
Mengurangi asidosis laktat
2) Pemberian insulin
0,1 -0,5 unit/kg BB diberikan secara bolus, dilanjutkan dengan mentenen 0,1 unit kg BB/ jam (5-7 unit/jam).
Fungsi insulin adalah:
• Menghentikan pembentukan asam lemak bebas
• Menghentikan glukoneogenesis
• Memulihkan sintesis protein seluler
Penurunan glukosa darah dilakukan secara perlahan karena bias berakibat kolaps vaskuler dan edema cerebri.
3) Penggantian kalium dan phosphate
Penggantian kalium dilakukan jika terjadi hipokalemia. Penggantian dilakukan dengan kombinasi phosphate (kalium phosphate). Harus diawasi adanya kejang karena phosphate akan menurunkan kadar kalsium.
Kalium yang diberikan = 1/3 BB X delta kalium, diberikan dengan drip titrasi tidak lebih 20 meq/jam
4) Pemberian bikarbonat
Diberikan jika Ph < 7,0 dengan bikarbonat < 5 meq/dl, diberikan dengan drip 1/6 BB X delta Be. Pustaka: 1. Brunner & Suddart, edisi 8, Keperawatan Medikal Bedah, EGC, 2.